Kemarin, tepatnya tanggal 8 Juli 2013 pukul 17.00, hasil SBMPTN
diumumkan... saat itu, aku sedang berada di RSU Probolinggo, tempat
nenekku dirawat. Aku dan papa dapat giliran buat ngejagain nenek.
Awalnya, aku sudah dapat firasat buruk kalau bakalan gagal di tes kali
ini... Makadari itu, aku bilang aja ke papa kalau liat hasilnya tunggu
di rumah aja, akunya lupa nomer pesertaku. Padahal sebenernya, aku
menyimpan nomer pesertaku di HP.
Pukul
17 tepat, aku buka websitenya lewat HP, login dengan nomer pesertaku dan
tanggal lahirku, dan terlihat jelas tulisan "Maaf, anda tidak lulus
SBMPTN 2013". Kacau yang aku rasain... Tapi sebisa mungkin, aku gak
pingin nangis di depan papa.
Adzan maghrib pun terdengar, aku
segera ke mushola sendirian dan ikut shalat maghrib berjamaah disana.
Setelah selesai, air mataku menetes... Aku mencoba nenangin diriku
dengan mengaji, sampai 10 ayat... aku ngerasa gak kuat... Wajah papa
mama yang kecewa itu membayangiku. Aku sangat gak ingin mengecewakan
mereka. Aku sedih bukan karena apa, aku sedih karena rasa takut mereka
akan kecewa padaku. Aku takut mereka jadi gelisah memikirkan aku...
Setelah bisa nenangin diriku, aku kembali ke kamar rawat nenek. Aku
melihat papa sedang shalat maghrib. Beruntungnya aku lagi flu berat,
jadi gak ketauan kalau aku ingusan gara-gara nangis... Setelah itu, aku
bolak-balik ke kamar mandi, takut air mataku menetes di depan beliau...
Saat itu, nenek sedang tidur.
Pukul setengah 7, kami
pulang. Di tengah perjalanan, aku bilang ke papa, "Pa... kalau yang kali
ini belum lolos, maafin Rika yaaa". Aku segera memalingkan wajah, dan
air matapun menetes. Entah papa tau atau gak, tapi dianya sok gak tau...
Papa bilang, "Gak papa kok, nak... Kalau beneran gitu, pasti nanti ada
jalan lain yang terbaik buat kamu". Aku hanya bisa diam, menahan agar
aku gak sesenggukan.
Sesampainya di rumah... ternyata Mas
Rian dan mama udah buka websitenya juga, dan udah tau hasilnya gimana...
Aku segera masuk ke kamar mandi, dan terjatuh lagi air mataku... Aku
sangat gak ingin mereka melihat aku kacau. Setelah sekian lama di kamar
mandi, aku keluar dengan wajah sok tegar. Tapi, ketika aku menatap papa,
air mataku tiba-tiba menetes deras dan aku benar-benar nangis
sesenggukan ala anak balita. Papa langsung menghampiriku dan memelukku.
Tuhan... Sudah lama sekali aku gak merasakan pelukan hangat ini. Mungkin
terakhir kali saat aku masih balita... Dengan terbata-bata aku berkata,
"Rika ngecewain papa mamaaa...". Papa yang masih memelukku, menaruh
tangannya dengan lembut ke kepalaku, kemudian mengelusku. "Gak kok nak,
gak papa... anggep aja ini pelajaran buat ke depannya. Buat ini sebagai
motivasi kamu...". Di dalam pelukkan papa, aku berkali-kali mengakatan,
"Maafin Rika". Dan akhirnya papa menegaskanku, "Gak usah minta maaf
lagi, papa selalu maafin kamu kok... Kamu itu anak ragil papa,
bener-bener papa jaga. Papa selama ini sering marahin kamu, bukan karena
apa... Papa sayang sama kamu"...
Setelah itu papa
melepaskan pelukannya, dan menyuruhku untuk makan malam. Jelas sekali
matanya berkaca-kaca... Dalam hati, aku jadi bertekad: RIKA AKAN SUKSES BUAT MAMA PAPA!
Aku akan berusaha demi dua orang yang mengasihiku dan aku kasihi ini. Meskipun aku tau, itu semua gak akan cukup untuk membayar semua yang telah mereka beri padaku. Tapi seenggaknya, aku 'bisa membuat mereka tersenyum bangga hingga akhir karenaku. "Tunggu kesuksesan rika, Ma, Pa..."