Setelah seminggu aku lewati, rasa nyaman itu datang kembali. Aku menatap pundaknya kembali, mencium aroma parfumnya dari belakang. Tersenyum, aku tersenyum kecil. Dalam hati kecilku berkata, "Pangeran palsu, bisa atau tidak kau selalu di dekatku seperti ini?". Tanpa perlu dia jawab, aku sudah tahu takdir akan menjawab apa. Meskipun dia akan mengatakan, "Tentu tuan putriku," dengan senyuman biusnya, tetap saja takdir akan berkata, "Belum saatnya," atau mungkin takdir akan berkata, "Tak akan pernah, berhentilah berharap!". Nyesek memang untuk menyadari keadaanku sekarang. Di sisi lain, aku berusaha untuk berhenti menikmati rasa nyaman ini. Namun, sisi lain yang lebih kuat menginginkan aku untuk selalu di dekatnya.
Sore ini, dia menceritakan segala masa lalunya. Masa-masa aku belum mengenalnya, masa-masa dimana aku belum berusaha membenarkannya :) Sekilas, ada perasaan takut. Aku takut nantinya, jika jarak harus memisahkan kita, dia akan kembali mengulangi kesalahan itu. Sungguh, aku tak apa jika harus melewati segala kenyamanan itu dengan kesibukan, tapi jangan Kau buat dia menikmati rasa nyaman itu dengan yang lain. Hanya aku, kumohon (˘ʃƪ˘)
Maaf Tuhan, sepertinya hamba-Mu yang satu ini sedang egois... tapi untuk saat ini, "buatlah dia menjadi yang terbaik untukku dan jadikan aku satu-satunya yang terbaik untuknya".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar